Cobaan itu Meninggikan Derajat Anda Dan Menghapus Kesalahan Anda, La Tahzan Akhi Ukhti :D


Di surga terdapat beberapa derajat (tingkatan), yang tidak dapat dicapai seorang hamba dengan amal perbuatannya, sebanyak apapun amal perbuatannya. Allah ta'ala menyiapkan istana-istana di surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Istana-istana tersebut tidak dapat diraih dengan amal perbuatan mereka dan mereka tidak dapat memperolehnya, kecuali dengan cobaan dan ujian. Untuk itu, Dia menyiapkan sejumlah perangkat yang mengantarkan mereka ke Istana-Istana itu.

Iman dan petunjuk juga bertingkat-tingkat. Dan seorang hamba tidak dapat sampai di tingkatan-tingkatan itu dengan amal perbuatannya dan tingkatan-tingkatan itu hanya bisa dicapai dengan cobaan dan ujian. Allah Ta'ala berkehendak mengangkat hamba-hamba-Nya kepada-Nya, lalu Dia menakdirkan sejumlah ujian baginya, membantunya sabar dan tegar menghadapi ujian. Itu Rahmat dari-Nya untuk hamba-NYa.

Jika orang-orang musyrik Quraisy tidak merampas harta Shuhaib Ar-Rumi Radhiyallahu anhu, apakah ia meraih tingkatan, "Sungguh, bisnis Abu Yahya (Shuhaib Ar-Rumi) itu beruntung." (Diriwayatkan Al-Hakim).
Jika orang-orang Quraisy tidak menyiksa keluarga Yasir radhiyallahu anhu, apakah keluarga Yasir mendapatkan kehormatan "Sabarlah keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kalian kelak di surga." (Diriwayatkan Al-Hakim, Ahmad, Ath-Thabrani, dan Abu Nu'aim).
Jika Anas bin An-Nadhr radhiyallahu anhu tidak dipotong-potong di Perang Uhud, apakah ia memperoleh kehormatan, "Jika ia bersumpah dengan nama Allah, maka Dia membuat sumpahnya terwujud". Jika ini tidak terjadi, tentu wajahnya tidak berseri-seri dan keinginannya tidak terwujud saat ia bersumpah,"Demia Allah jangan pecahkan gigi seri Ar-Rubaiyyi". (Diriwayatkan Al-Bukhari, ABu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah, dan Ahmad)
Jika Bilal radhiyallahu anhu tidak disiksa Umaiyah bin Khalf dan para algojonya, ia tidak meraih tingkatan, "Bilal tokoh kami" (Diriwayatkan Al-Bukhari)
Jika Nabi Yusuf alaihis salam tidak sabar saat dirayu permaisuri Mesir dan dipenjara, ia tidak mendapatkan gelar, "Hai orang yang jujur."
Jika Umar Bin Khaththab radhiyallahu anhu tidak bersabar menghadapi pahitnya kebenaran dan keadilan, ia tidak menguasai seluruh dunia seperti dikatakan banyak orang, "Tangannya memukul bumi dengan tongkatnya.".
Andai Umar bin Abdul Aziz tidak bersabar atas pahitnya menegakkan kebenaran dan keadilan, ia tidak memperoleh gelar khalifah kelima.
Bila sahabat-sahabat pelaku peristiwa Ar-Raji' tidak sabar menghadapi cobaan di jalan Allah ta'ala, mereka tidak masuk dalam cakupan orang-orang yang disebutkan Allah ta'ala di ayat surat Al-Baqarah 207

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah." (al-Baqarah: 207)

Jika Sa'ad bin Muadz radhiyallahu anhu tidak sabar, tidak berkorban di jalan Allah ta'ala, darahnya tidak tumpah di perang Khandaq, dan putusannya tidak adil untuk Bani Qhuraidhah, ia tidak meraih predikat,
"Arasy Ar-Rahman bergetar karena kematian Sa'ad bin Muadz." (Diriwayatkan Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Andai Abdullah bin Haram radhiyallahu anhu tidak berkorban, atu berkontribusi atau bersabar di Perang Uhud dan perang-perang lainnya, ia tidak mendapatkan derajat firman Allah ta'ala, "Wahai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, niscaya Aku beri"(Diriwayatkan At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi).
Bila Ahmad bin Hanbal rahimahullah tidak sabar menghadapai siksa dan tegar diatas kebenaran, ia tidak memperoleh gelar sebagai imam ahlus sunnah.
Andai Sayyid Quthb tidak sabar dan tegar saat ujian dan kematiaanya, maka perkataanya tidak dikenang, buku-bukunya tidak beredar luas, dan tidak punya pengaruh di dunia.

Jika Allah ta'ala berkehendak memilih hamba-hambaNya menjadi syuhada, Dia menyiapkan musuh untuk membunuh mereka, agar darah mereka mengalir, dalam rangka mencari cinta dan keridhaan-Nya, serta agar merka mengorbankan nyawa mereka di jalan-Nya.

Mati Syahid adalah peringkat tertinggi setelah peringkat para nabi dan orang-orang jujur. Syuhada didekatkan kepada Allah ta'ala dalam keadaan ridha kepada-Nya dan Dia memilih mereka untuk-Nya.

Karena itu Allah ta'ala menyiapkan sejumlah perangkat untuk tujuan diatas. Dia menjadikan musuh-Nya dan tentu musuh kaum Muslimin sebagai sarana kaum Mukminin mendapat gelar Syuhada'. Betapa mulianya peringkat ini! Jika Allah ta'ala berkehendak mengangkat para dai, mujahidin, dan orang-orang ikhlash ke tingkatan ini, mereka harus dibunuh musuh.

Ada sekian dosa yang tidak bisa dihapus, kecuali dengan kebaikan-kebaikan besar atau cobaan-cobaan berat. Untuk itu, Allah ta'ala menakdirkan sejumlah cobaan bagi wali-wali-Nya, untuk menghapus dosa-dosa mereka, baik dosa kecil maupun dosa besar, hingga mereka bersih dari dosa, lalu mereka menghadap kepada-Nya tanpa dosa sedikitpun.

Sungguh Mulia karunia ini dan nikmat derajat tinggi ini ! Barangkali, makna inilah yang disinyalir hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
"Cobaan tidak henti-hentinya menimpa orang Mukmin dan Mukminah di dirinya, anak, dan hartanya, hingga ia bertemu Allah tanpa punya dosa." (Diriwayatkan At-Tirmidzi).

Dikutip dari buku Taushiyah untuk Aktivis Islam karangan Dr. Najih Ibrahim
Semoga bermanfaat Hanya berbagi
La Tahzan ya Akhi ya Ukti :D
Wallahualam Bissawab

Ditulis Oleh : maya ~ Admin Blog - @mochelz

Muh.Akram Anda sedang membaca artikel berjudul Cobaan itu Meninggikan Derajat Anda Dan Menghapus Kesalahan Anda, La Tahzan Akhi Ukhti :D yang ditulis oleh Teh May Blog Semoga Bermanfaat yaa :)

Jika Anda menyukai Artikel di blog ini, Silahkan berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Teh May Blog

1 komentar:

Back to top